Artikel / CHAIRMAN

Kisah Natali Ardianto Membangun Tiket.Com

Blog Artikel dan Info

Kisah Natali Ardianto Membangun Tiket.Com

Natali Ardianto dulunya tidak suka bersikap baik dengan orang-orang. Tapi Anda tidak akan pernah menyangka hal tersebut jika melihat perjuangan dan sosoknya sekarang. CTO Tiket.com ini mengenang hari-harinya di Universitas Indonesia dimana ia menolak kencan makan siang dengan seorang mahasiswi dengan pertimbangan waktu yang harus ia habiskan untuk menunggu mahasiswi tersebut menghabiskan makanannya. Pola pikir kuantitatif tersebut biasanya dimiliki oleh orang yang didiagnosis dengan gangguan sosial atau bisanya dimiliki oleh progammer.

Kini, Natali yang juga merupakan co-founder StartupLokal, sebuah komunitas entrepreneur terkenal di Jakarta, mengakui pentingnya berinteraksi dengan orang lain. Menurutnya, aspek yang paling penting untuk kesuksesan sebuah bisnis adalah mengembangkan “soft skill” dan teknik komunikasi. “Startup perlu memahami pentingnya pemasaran. Anda mungkin memiliki produk yang benar-benar buruk, tapi tetap saja, jika Anda memiliki tim pemasaran yang baik, Anda bisa sukses,” katanya.

Meskipun demikian, produk yang dimiliki Natali bukanlah produk yang buruk. Tiket.com merupakan juara di sektor booking online untuk travel, event, dan perhotelan. Tiket telah beroperasi dengan baik sejak didirikan pada tahun 2011, dan bahkan telah menghasilkan profit di awal tahun 2013. Natali mengatakan, “Sebenarnya, bisnis kami melejit di bulan April tahun itu, dan kami benar-benar tidak tahu mengapa. Pendapatan kami antara tahun 2012 dan 2013 naik 1.300 persen. Saya pikir jumlah pelanggan kami naik dengan signifikan dan kami mulai membuat lebih banyak penjualan. Kami cukup terkejut dan kaget.”

Natali memberi kredit kepada co-founder lainnya sebagai rahasia sukses di balik pertumbuhan Tiket yang cepat itu. Menurutnya, CEO Wenas Agusetiawan, commercial director Dimas Surya Saputra, dan managing director Gaery Undarsa sangat paham dengan kondisi bisnis di Jakarta yang membuat Tiket lebih unggul dari pesaing lainnya Indonesia. Natali percaya banyak platform booking online lainnya yang dijalankan oleh ahli teknologi yang introvert, seperti dirinya yang dulu.

Pada tahun 2008, satu tahun setelah Natali lulus dari program teknologi informasi Universitas Indonesia. Melalui kerjasama dengan sesama software engineer Andri Burman, web developer Deche Pangestu, dan brand strategist Selina Limman, Natali mendirikan Urbanesia (tautan sudah tidak aktif), salah satu direktori online lifestyle pertama di Jakarta. Perjalanan karirnya di startup ini cukup singkat. Meskipun Kompas membeli saham di Urbanesia pada tahun 2012, Ardianto sudah meninggalkan perusahaan ini pada tahun 2010. Dua tahun setelah diluncurkan, ia memutuskan untuk menyerah karena ia tidak melihat potensi pertumbuhan Urbanesia. Ia menjelaskan, “Kompas sebenarnya mengakuisisi Urbanesia pada tahun keempat, tapi kini sudah mati karena tidak ada orang lain yang tersisa di tim.” Pada tahun yang sama, Selina menyebut kesepakatan tersebut secara teknis bukanlah sebuah akuisisi.

Setelah ia benar-benar keluar dari Urbanesia, Natali bekerjasama dengan technopreneur Kevin Sanjoto (sekarang co-founder Conray Group) dan Yanuar Lutfi (sekarang developer software senior di Nusapro Telemedia Persada) untuk mendirikan Golfnesia pada bulan Juni 2010. Perusahaan ini merupakan sistem booking online untuk lapangan golf pertama di Indonesia. Dengan menerapkan model bisnis yang telah berhasil dijalankan di Jepang, Natali dengan cepat menyadari bahwa pasar golf Indonesia tidak cocok untuk ranah booking online. Ia mengatakan, “Tidak seperti Jepang, pasar golf di sini tidak memiliki lapangan untuk publik, dan Jakarta adalah pasar yang kita inginkan. Jika Anda ingin bermain di salah satu lapangan di sini, Anda juga harus memiliki kepemilikan atas lapangan tersebut atau mengenal seseorang yang memilikinya. Jadi, keeksklusifan tersebut adalah apa yang benar-benar menghambat Golfnesia.” Natali akhirnya meninggalkan perusahaan yang ia lahirkan pada tahun 2011 tersebut. Saat ini, homepage Golfnesia bertuliskan under construction, yang merupakan indikator kuat bahwa kini website tersebut tengah mati, tidak dijalankan oleh siapapun.

Perusahaan ketiganya kini, Tiket.com, tumbuh dengan pesat dan sukses. Natali mengatakan bahwa 40 persen bisnis Tiket merupakan tiket pesawat, diikuti oleh tiket kereta api dan booking hotel. Tiket juga bereksperimen dengan booking online untuk sewa mobil, namun menurutnya, layanan baru ini tidak berjalan dengan baik dalam menghadapi persaingan yang ketat dari merek seperti Hertz. Tetap setia kepada keyakinannya bahwa pemasaran adalah kunci kesuksesan, Natali mengatakan bahwa tahun ini Tiket semakin menggencarkan usaha promosinya melalui iklan di billboard, Google AdWords, dan platform media sosial yang secara aktif digunakan oleh orang Indonesia.

Natali mengatakan bahwa ada satu hal yang sering diabaikan startup Indonesia, tapi penting, yakni menjaga kontrol yang ketat terhadap arus keuangan dan pengeluaran. Menurutnya, jika startup mendapatkan momentum untuk melakukan bootstrapping atau memanfaatkan dengan baik investasi awal mereka, mereka akan berada dalam posisi terbaik ketika tiba saatnya untuk meningkatkan usaha mereka ke skala yang lebih luas.

Ia menjelaskan: “Di StartupLokal, kami selalu mengatakan, ‘Jangan terlalu cepat mengeluarkan uang.” Tapi orang sering tidak menyadari pentingnya kalimat tersebut. Pola pikir orang Indonesia adalah mencari investasi untuk mendapatkan ketertarikan pasar, tapi ini salah. Apa yang selalu saya tanyakan adalah: ‘Bagaimana Anda bisa membuat perusahaan Anda berjalan selama lima atau sepuluh tahun tanpa investasi baru? “Itulah yang telah kami lakukan di Tiket.com”.

Dengan pola pikir tersebut, para founder Tiket telah sangat memahami kapan dan di mana mereka mendapatkan dan menghabiskan uang. Natali mengatakan Tiket menghabiskan USD 40.000 (sekitar 466,6 juta) untuk membeli sistem otomatis yang memberitahu mereka jumlah panggilan terabaikan yang ditujukan ke kantor mereka. Ia mengatakan, “Yang kami tahu adalah bahwa kami mendapat beberapa ribu panggilan per hari, tapi kami tidak tahu berapa banyak orang yang mencoba untuk menghubungi kami dan gagal. “Dengan cepat kami menyadari bahwa tingkat panggilan terabaikan tersebut mencapai 60 sampai 70 persen. Jadi kami menjadikan masalah tersebut sebagai salah satu alasan kami untuk mempekerjakan lebih banyak orang.” Sebagai hasil dari perekrutan besar-besaran Tiket pada tahun 2014, perusahaan ini kini memiliki lebih dari 150 karyawan, lebih dari dua kali jumlah tahun lalu.

Sebagai bagian dari fase ekspansi Tiket, tim ini berencana untuk berekspansi di luar Indonesia dalam beberapa bulan ke depan dan memulai layanannya di luar negeri. Tiket ingin bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan dan membuka cabang baru di kawasan seperti Australia, China, Hong Kong, dan Malaysia. Terkait IPO Tiket yang akan datang, Natali percaya perusahaanya bisa mencapai IPO dalam beberapa tahun kedepan, tapi menolak untuk memberikan jangka waktu yang lebih spesifik. “Kami harus menunggu dan melihat apa yang akan terjadi dengan kondisi investasi kami. Kami tidak mencari investasi tahun ini, jadi kami akan memeriksa kembali tahun depan.

12/02/2018
3860 orang telah membaca artikel ini.
|Wikipedia |